Suatu hari Ibu menelponku untuk menemaninya ke Jakarta untuk menjenguk saudara lama. Dan hari yang dipilih untuk berangkat adalah Kamis sore. Naik bus. Sialnya, siang hari aku begitu tergoda dengan permen susu yang tergeletak di meja ruang tamu. Aku ambil tiga butir dan ku kulum berurutan.
Tiba-tiba saja, menjelang sore hari perut ini terasa mules. Masuk WC. Lega sudah.
Tapi rupanya masalah belum selesai.
Dalam perjalanan menuju ibu kota, isi perut ini kembali meronta-ronta.
Sampai akhirnya, aku putuskan tidak kuat lagi dengan cobaan ini.
Akhirnya saat bus berhenti untuk istirahat, aku langsung ngacir menuju toilet umum. Untung saja ada satu yang kosong gumam ku dengan gembira.
Baru saja jongkok di WC, dari sebelah ada yang teriak nanya,
+ "apa kabarnya?"
- "baik" jawabku
+ "masih kerja di tempat yang dulu itu?"
- "ah, saya lakoni aja, jaman sekarang mah sulit mau cari kerja baru" kata ku sambil hati bertanya-tanya ini siapa, koq kenal
+ "anak masih dua?"
- "masih, masa udah bangkot gini beranak lagi" jawab ku sambil tetap penasaran ini siapa di WC sebelah
+ "istrimu sehat-sehat saja?"
- "sehat, cuma agak kurusan dikit" jawab ku memberi penjelasan sambil masih bertanya-tanya ini siapa sih orang yang di WC sebelah ...
Hening beberapa saat ...
Tidak berapa lama orang di WC sebelah ngomong gini, "udahan dulu ya neleponnya, ini di WC sebelah ada orang gila, ngasih komen terus"
Duhh..... ternyata di sebelah itu orang lagi nelepon temannya.
Manusia Hidup Tidak Saja oleh Harapan,
Namun juga oleh Kenangan (Unknown)
Era 90
an adalah masa paling menyenangkan buat saya. Itulah masa yang selalu membekas
dalam ingatan saya sampai saat ini. Mengapa?? ada beberapa hal. Pertama, tahun 90an adalah masa saya SD,
dimana saya menjadi sok jagoan dengan menjadi ketua genk di kompleks rumah saya.
Waktu itu saya dan teman-teman biasa bermain petualangan ala Indiana Jones
dengan keluar masuk hutan yang ada di dekat rumah. Saya sering diminta memimpin
di depan, dan teman-teman perempuan akan memilih berada dibelakang saya. Dalam ekspedisi
keluar masuk hutan itu, kami sering bertemu dengan kijang dan barisan babi hutan.
Jika kijang merasa terancam akan segera lari, beda halnya dengan babi hutan. Babi
hutan jika merasa terancam akan menyerang pengganggunya sampai mati. Maka triknya,
ketika berpapasan dengan babi hutan jangan menatap wajahnya (kenapa? Soalnya kalo
nanti dikira satu keluarga, babi hutannya akan ngejar kalian wkwkw). Kenangan-kenangan
seperti itu sampai saat ini selalu kami ceritakan bila saya dan teman-teman reuni.
Kebetulan kami masih terhubung melalui grup WA. Kedua,
tahun 90an adalah musik paling asiik buat saya. Kalau kalian dengarkan irama musik
tahun 60an, 70an, 80an, 90an, dan 2000an kalian akan mendapati nuansa yang
beda. Dan biasanya orang akan lebih suka musik tahun 80an dan 90an. Di kedua
era itu mamang memiliki kemiripan, namun tahun 90an sudah ada nuansa
electronicnya. Lirik-lirik lagu tahun 90an menurut saya juga lebih dalam dan
berkualitas. Uniknya lagi lagu-lagu dengan lirik sedih ataupun marah dibuat
dengan komposisi music yang ceria. Sehingga tahun 90an rasanya tidak ada rasa
pedih. Tahun 90an saya mulai menyukai lagu-lagu barat setelah boomingnya lagu Hangin
Tough yang dibawakan NKOTB, yang kemudian menginspirasi lahirnya Boys Band pertama
Indonesia Trio Libels. Masih terkait tentang music, di tahun 90an juga saya memiliki
hobi memutar tape cassette atau mendengarkan radio untuk mendengarkan lagu-lagu
Rock Ballad barat macam Never Say Good bye (Bonjovi), I Remember You (Skid Row)
Amazing (Aerosmith), Sweet Child O’ Mine (GN’R) sampai Nothing Else Matter
(Metallica). Sementara di Indonesia yang paling ngehits adalah lagu Mawar Merah
(Slank), Kangen (Dewa 19). Uniknya di pertengahan tahun 90an genre musik dunia sedikit
berubah seiring hadirnya aliran Grunge, Rock Alternative dan Punk Rock macam
Nirvana, Pearl Jam dan Green Day di Amerika Serikat, atau Radio Head dan Oasis di
Inggris. Jika kalian suka dengan band dan lagu-lagu yang sebutin tadi, selamat
berarti selera musik kita sama hehe. Ketiga,
film era 90an adalah film tentang romantika keluarga. Jika di Indonesia film
yang terkenal adalah film tentang silat, sementara film barat cenderung
mengekspos tentang perang. Tapi yang menarik saya adalah kebanyakan film di
tahun 90an bercerita tentang keluarga. Dalam film-film itu selalu digambarkan keluarga
yang sempurna, saling menguatkan, dan selalu Happy ending. Untuk yang satu ini kenangan
tersebut sangat membekas dalam ingatan saya. Keempat, fashion yang mempengaruhi tahun 90an adalah imaji tentang sosok
Lupus. Mulai dari model rambut jambul, kemeja kedodoran, celana panjang baggy
dan sepatu kets. Kelima, gaya hidup
yang sangat mencolok ditahun 90an adalah maraknya masyarakat mengonsumsi fast food, dan instant termasuk saya. Saat itu mengonsumsi fast food dan makanan/minuman instant
terasa keren, karena saya menjadi seperti mahluk kekinian.
Ok. Berbicara
era 90an memang tidak ada matinya. Tapi kenapa
kita perlu bernostalgia?
“Nostalgia adalah perasaan hangat yang kita rasakan sewaktu kita
memikirkan tentang kenangan kenangan terindah dari masa lalu kita," kata
Erica Hepper. Menurut Hepper, kenangan akan masa lalu dibutuhkan untuk masa
kini karena membantu orang untuk menghubungkan pengalaman masa silam dengan
keadaannya sekarang. Nostalgia membuat manusia masa sekarang menjadi
lebih kuat menghadapi tantangan kekinian atau ketakutan yang dicemaskan dari
masa depan. Sedangkan menurut Clay Routledge "dengan nostalgia membuat orang-orang merasa
dicintai dan dihargai, meningkatkan persepsi kehangatan serta dukungan di saat sedang
kesepian,". Jadi bernostalgia itu penting, asal jangan kemudian terjebak
pada masa lalu dan enggan melangkah menuju masa depan.
Sayang sekali jika kalian belum
pernah melewati perumahan itu, atau sekedar pernah mendengarnya. Perumahan Jatimulyo Baru, masuk dalam wilayah Kelurahan
Kricak, Kecamatan Tegalrejo, Kota Jogja. Perumahan ini terletak di pinggir Sungai
Winongo. Yang aneh jika biasanya kita melihat sungai mengalir dari utara
(Gunung Merapi) menuju Selatan (Bantul), Sungai Winongo yang melintasi
Jatimulyo Baru justru terlihat menuju utara. Ini terjadi karena sungai Winongo memiliki
alur yang berkelok-kelok. Dan tepat di Jatimulyo Baru, alur sungai membentang
dari selatan ke utara, sehingga yang terlihat Sungai Winongo ini justru menuju Gunung
Merapi (Utara).
Di atas sungai ini membentang
sebuah jembatan yang terbilang tua (berusia sekitar 34 tahun, mungkin lebih). Jembatan
ini memiliki panjang sekitar 12 meter, dan lebar 3 meter dengan pilar cukup
besar ditengah bawah jembatan. Menurut cerita tokoh masyarakat setempat,
jembatan yang disebut warga sebagai Jembatan Jatimulyo Baru (ada pula yang
menyebutnya Jambatan Karangrejo) ini dibuat oleh siswa SMK yang waktu itu
praktik kerja di BLPT tahun 1982. Sungguh luar biasa....anak SMK saja bisa
membuat konstruksi jembatan sekuat ini.
Namun beberapa tahun terakhir yang
selalu terdengar bukanlah cerita tentang kekuatan jembatan, melainkan masalah
yang ditimbulkan oleh jembatan Jatimulyo Baru. Pilar ditengah jembatan sering
menjadi penghalang Sampah-sampah yang terbawa arus sungai sehingga terkumpul di
tengah jembatan. Ketika sampah menumpuk ditengah jembatan, air sungai menjadi
terhalang sehingga air membludak dan membanjir rumah-rumah warga, termasuk
rumah saya. Tak hanya itu, seiring menuanya usia jembatan Jatimulyo Baru,
konstruksi jembatan semakin ringkih. Padahal jembatan ini dilalui oleh berbagai
macam kendaraan, mulai dari sepeda onthel sampai truk. Terakhir jembatan ini
dilalui oleh mobil pemadam kebakaran, saat salah satu rumah warga di Perum
Jatimulyo Baru terbakar akibat korsleting listrik.
Belum lama ini ada survey yang
dilakukkan oleh tim sekolah vokasi UGM terhadap kelaikan jembatan Jatimulyo
Baru. Hasilnya jembatan Jatimulyo Baru harus ditutup karena berpotensi runtuh. Karena
tak mau mengambil resiko, perangkat kecamatan langsung menutup jembatan dengan
memasang bus beton ditengah jembatan. Namun disitulah muncul masalah.
Penutupan jembatan dianggap
menghalangi akses transportasi warga, bahkan dapat mengganggu perekonomian. Hal
ini terjadi karena warga Perum Jatimulyo Baru kebanyak membeli barang –barnag kebutuhan
sehari-hari di warung kelontong yang ada
di seberang jembatan Jatimulyo Baru. Beberapa kali bus beton yangterpasang di
tengah jembatan tiba-tioba berpindah tempat. Di waktu siang bus benton
terpasang ditengah jembatan, namun keesokan paginya bus beton sudah berada
dipinggir jalan. Hal itu terjadi beberap kali, sehingga Ketua RW setempat
sampai menyemen bus beton agar tidak dipindah orang. Namun rupanya ada saja
ulah orang-orang yang tidak puas dnegan penutupan jembatan. Mereka mencari cara
agar bus beton dipindahkan agar jembatan bisa tetap dilalui. Hal ini sampai
berakibat pada terjadinya konflik horisontal antar warga yang menyetujui
penutupan jembatan dnegan warga yang menolak penutupan jembatan. Warga yang
menolak jembatan ditutup meminta agar jembatan tetap dibuka sampai ada
kepastian jembatan akan dibangun oleh Pemkot Yogyakarta (sampai saat ini
kepastian tersebut tidak jelas). Sementara warga yang menyetujui jembatan
ditutup kebanyakan hanya pasrah, menerima saja bahwa kondisi jembatan Jatimulyo
Baru sudah tidak laik sehingga dapat tiba-tiba saja runtuh.
Kita lupakan konflik antar warga
Perum Jatimulyo Baru. Cerita unik terkait jembatan Jatimulyo Baru justru
berasal dari masyarakat diseberang jembatan, yakni kampung Kricak. Bagi warga
di kampung kricak yang kebanyakan merupakan warga kurang mampu jembatan adalah
media komunikasi. Disaat warga yang tergolong mampu bisa mendirikan kamar mandi
dan WC di rumah, warga tidak mampu melakukan kegiatan MCK justru disungai Winongo
ini. Dan tempat favorit BAB mereka adalah dibawah jembatan. Beberap kali saya
mengamati orang yang sama selalu menuju bawah jembatan diwaktu yang setiap
harinya. Saya pernah iseng menengok kebawah jembatan, ternyata ada 2-3 orang
yang BAB bersamaan, berdekatan. Mereka justru tidak ada rasa canggung. Dan ketika BAB
bersama itu mengalirlah segala informasi, mulai dari gosip sampai berita
terbaru yang terjadi di lingkungan mereka. Konon dibawah jembatan itu pula anak-anak
muda Kampung Kricak berpesta miras hingga melakukan hubungan seksual dengan
pasangannya. Untuk yang terakhir ini seorang teman pernah memergoki. Maklum kondisi
dibawah jembatan gelap dan tertutup rumput yang tinggi.
Saya pernah diajak musyawarah
tentang rencana pembangunan jembatan
baru Jatimulyo Baru ini. Jembatan baru akan dibuat dengan panjang sekitar 15
meter dan lebar 4 meter, sedangkan pilar dibawah jembatan akan dihilangkan. Selain itu
kiri dan kanan jembatan juga akan dibersihkan. Artinya akan dilakukan
normalisasi dan pembersihan lumpur, batu, dan rumput yang menutupi bawah
jembatan hingga radius 10 meter dari jembatan. Pembangunan jembatan baru sendiri rencananya akan dimulai pertengahan tahun 2017 ini dengan lama
pengerjaan sekitar 5 bulan.
Yang membuat saya risau, lalu dimana mereka yang terbiasa
“nongkrong” dibawah jembatan harus mengungsi selama proses pembangunan
jembatan?. Dimana pula anak-anak muda hendak berpesta miras dan menyalurkan
libido seksualnya tanpa gangguan? Akankah komunikasi yang telah terbangun akan menjadi terganggu??
Mungkin saya perlu bantuan seorang
profesor di kampus saya mencari jawaban atas pertanyaan ini: ADA MASALAH??
Pak RT sedang berleha-leha, tiduran di atas dipan bambu yang ada di teras rumahnya. Tiba-tiba
ponsel yang disimpan dicelananya bergetar. Sebuah pesan masuk di WA grup RT
27.
Bu Joko : pak RT, Juki kucing saya sedang berahi, tolonggg....
Pak Rt : Terusss??
Bu Joko : apa pak RT punya kenalan yang kucingnya mau
dikawinkan dengan Juki? Saya gak tega ngeliat Juki meraung-raung sambil ngejar-ngejar
Ifah, anak ku wedok.
Pak RT diam.
Tiba-tiba pesan lain muncul di WA.
Bu Bambang : aduh maaf jeng aku gak bisa bantu, Jeni baru 2 minggu lalu
melahirkan dengan operasi sesar. Aku gak tega kalo Jeni kawin lagi, pasti sakit
sekali. Kemarin pas sesar aku sampe habis 10 juta lho jeng. Habisnya Pak
Bambang gak berani bertindak, waktu negliat anaknya Jeni keluar hanya kakinya thok!. Trauma jeng aku...,tau sendiri
kan dulu anaknya Jeni meninggal gara-gara pas melahirkan gak ditolong dokter.
Bu Joko belum membalas, pesan WA lain muncul. Kali ini dari
Bu Agus.
Bu Agus : Ya udah jeng, Juki kawinkan dengan Debora aja. Kebetulan
Debora juga udah masanya kawin. Dia juga pasti lagi horni, soalnya kemarin si Tami
barusan dikawinin sama kucing garong, gak tau tuh kucingnya siapa. Tiba-tiab
aja ada kucing kampung yang datang ke rumah langsung ngajak kawin Tami gitu. Kawinnya
diatas genteng lagi..Berisik banget
Bu Joko : Ih makasih lho bu Agus. Tapi kapan ya Debora mo
dikenalin dengan Juki?
Bu Agus : Monggo mawon, saya besok selo kok... mungkin Debora dan dan Juki perlu PDKT dulu hihihi.. eh Debora kan belum pernah kawin, nanti gimana ya kawinnya?
Bu Joko : kawinnya ya biasa lah Bu, kayak Bu Agus gak tau
aja xixixix....
Bu Agus : xixixixi.....Eh iya, jeng nanti kalo Debora bunting terus anaknya
gimana ? siapa yang mau ngurus? Aku wegah loh nek dikon ngurus dewe
Bu Joko : Gini aja, Debora kan kucing persia, kalo Juki kucing
siam, mesti anaknya lucu banget ya..imut-imut. Nah kalo anaknya cewek biar aku
yang melihara, tapi kalo cowok Bu Agus yang melihara. Gimana?
Bu Agus : OK jeng. Deal. Tapi kalo aku sebenerya pengen
ngasih anaknya Juki dan Debora ke orang lain. Kira-kira siapa ya yang mau?
Pak RT diam.
Sebuah pesan masuk, kali ini dari Bu Yosi. Si janda
kembang.
Bu Yosi : Jeng jangan lupa sebelum kawin kucingnya dimintain
surat pengantar ke Pak RT nanti dikira kumpul kebo. Kasian kan anak-anaknya kalo tetangga pada ngomongin mereka anak haram.
Pak RT langsung gigit HP dan teriak memanggil istrinya “ Bu
Neeee, opo yo koyo ngene urusane RT??”
Pesan garing itu muncul di layar pesan WA saya pagi tadi. Akhir pekan memang
identik dengan mengendurkan urat syaraf, dan apalagi kalau bukan menjalani
ritual LIBUR. Libur adalah candu! Sekali kamu bersekongkol dengan pikiranmu untuk
menerima libur sebagai kebutuhan, maka kamu selamanya akan terjebak pada rutinitas libur. Saat kamu sudah terperangkap, maka selamanya kamu akan diperbudak oleh aktivitas
bernama liburan. Dan bila kamu menyadarinya, kekuatan besar dibalik ideologi
liburan adalah jeratan kapitalisme yang membuatmu semakin tak berdaya.
Dulu libur
adalah kegiatan sederhana. Beristirahat setelah lelah menjalani rutinitas
selama seminggu. Namun kini libur memiliki makna yanglebih luas, yakni bagaimana
kamu menikmanti libur. Lebih jauh lagi libur bukan sekedar di rumah, namun
dengan siapa kamu menghabiskan libur mu. Akhirnya libur pun tak cukup hanya
sehari. Kita akan mencari-cari cara agar libur sebagai hak bisa bertambah,
sementara kewajiban sebagai syarat utama sebelum menerima hak sebisa mungkin
dikurangi. Libur pun menjadi makna jamak, berakhir pekan. Jumat, Sabtu dan Minggu.
Disaat penanda di kalender menunjukkan hari kejepit (biasanya kamis hingga
senin) maka kita akan mencari-cari alasan agar bisa menambah waktu libur. Kita
pun meminta izin cuti, hingga beralasan sakit bila izin tidak didapat. Bahkan jika
perlu nekad membolos.
Apakah benar ada koherensi antara banyaknya hari libur dengan
produktivitas, atau lebih jauh lagi libur dengan prestasi. Bisa jadi Ya, namun
bisa juga Tidak. Inilah dilema manusia moderen. Manusia yang hidup di abad ini. Asumsinya
dengan menjalani hidup di hari senin hingga kamis/jumat, maka tubuh perlu di re-charge
agar bisa kembali fresh di awal minggu berikutnya. Begitu seterusnya.
Ada ungkapan,
libur hanya menjadi hal yang sia-sia jika dibiarkan berlalu tanpa makna. Bila demikian,
makna libur menjadi lebih penting dari makna bekerja. Seorang motivator yang
namanya mulai meredup pernah berkata” sebaik-baiknya libur, lebih baik libur
yang tetap memberi manfaat” hemmmm...apa ini artinya demi mendapatkan manfaat libur
kita harus “mencari-cari kegiatan lain” saat libur. Jika demikian, libur pada
akhirnya bukanlah libur. Karena libur hanyalah mitos.
Kalau saya, mari lupakan libur. Selow saja, cukup.
Sebulan terakhir saya punya profesi baru, jadi tempat curhat
ABG galau. Sebuah profesi yang sangat tidak prestisius.
galau/ga·lau/a,bergalau/ber·ga·lau/a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran) (KBBI)
Awalnya gara-gara ada anak magang di kantor saya yang
menangis bombai. Sebut saja namanya Lia (bukan nama sebenarnya). Lia seorang
siswi SMK jurusan broadcasting di Bengkulu. Ia mengikuti kerja praktek di
tempat saya bekerja sebagai salah satu syarat kelulusan sekolah. Waktu
itu saya sedang sendirian di kantor dan melihat Lia sedang dipojok salah satu
ruangan, sementara teman-teman yang lain sudah pada pulang. Dari bahasa tubuhnya
saya melihat Lia sedang menangis. Karena penasaran saya pun mencoba mendekatinya
dan bertanya ada apa? Tapi Ia hanya diam. Tak mau menjawab, malah semakin keras
menangis. Merasa ada yang salah, saya pun mengusap pundaknya. Saya lanjut
berkata, “kalo emang gak mau ngomong ya udah, yang sabar ya”. Lalu saya
tinggalkan Lia sendirian.
Sejam berlalu, saya dengar suara langkah kaki turun dari
tangga. Rupanya Lia hendak pulang. Lalu saya menyapa,” Apa kamu baik-baik saja?”
Lia malah mendekati saya dan kembali menangis.
Akhirnya saya suruh dia duduk disamping saya dan saya minta ia cerita sambil saya
mengetik di depan komputer. Akhirnya berceritalah dia tentang kangennya dia
pada orang tuanya yang berada di Bengkulu dan masalahnya dengan teman
laki-lakinya. Dia bingung ingin cerita pada siapa karena di Jogja, ia tidak
kenal siapa –siapa. Sebagai mantan anak kost saya bisa
memahami yang dirasakan Lia. Memang gak mudah jadi anak kost, apalagi kalo tidak punya teman dekat, dan waktu jatuh sakit tidak punya uang untuk berobat. Untung saja selama jadi anak kost, sakit
yang saya derita hanya perut kembung dan masuk angin karena terlambat makan. Akhirnya
setelah Lia selesai cerita, saya pun hanya mengatakan kata-kata klise yang akan
selalu saya ucapkan pada teman-teman saya yang punya masalah: “sabar ya…memang
hidup itu gak selamanya mudah”. Lalu saya suruh Lia pulang.
Beberapa hari berlalu saya tidak bertemu Lia. Saya pun sudah
lupa kejadian malam itu. Sampe suatu malam saya dibuat kaget karena ternyata
Lia belum pulang lantaran menunggu saya. Aduuhhh ada apa lagi ini?. Kali ini ia
curhat namun tidak dengan menangis, melainkan dengan cerita bahagia. Dia ceritakan
semua tentang keluarganya, tentang teman cowoknya, tentang hal-hal yang dia
lakukan selama magang. Sebetulnya saya juga gak ambil pusing dengan apa
yang diceritakannya. Tapi yah dari pada sendirian didepan computer maka saya
dengarkan saja curhatannya yang ngalor ngidol, sambil sesekali saya merespon
dengan senyum kecil dan deheman.
Akhirnya selama hampir sebulan saya harus pulang lebih larut
karena harus mendengarkan curhatan anak ABG ini ketika kantor sudah sepi. Seperti
biasa, terkadang Lia bercerita sambil menangis, besoknya ia bercerita dengan
gembira. Ahh, dasar anak ABG yang galau, kata saya dalam hati. Seperti biasa
saya tidak pernah memberi saran. Hanya jadi tempat curhat. Kalau pun ada saran
yang saya berikan, hanya kata-kata klise yang ada di buku-buku motivasi.
Dan besok adalah hari terakhir Lia magang. Hari ini saya melihat
senyumnya lebih bahagia karena akan bertemu dengan teman-teman dan keluarganya,
meski suaranya agak bergetar waktu berpamitan dengan rekan-rekan di kantor.